Company Profile

Certification


PT FERRON PAR PHARMACEUTICALS Ekspor Perdana Ke Eropa

 

Pasar Eropa, khususnya Inggris merupakan pasar ”highly regulated” yang sangat ketat dalam persyaratan kualitas, sehingga tidak mudah ditembus oleh pemain farmasi lokal. Karena itu, peristiwa ini merupakan tonggak sejarah baru tidak hanya bagi PT FERRON PAR PHARMACEUTICALS, tetapi juga bagi industri farmasi di Indonesia pada umumnya.

Keberhasilan memasuki pasar Inggris ini, juga telah membuka peluang ke pasar Eropa lainnya bagi perusahaan dalam naungan Dexa Medica Group ini. “Satu lagi, milestone penting yang akan tercatat dalam sejarah PT FERRON PAR PHARMACEUTICALS (FERRON), yaitu: Melakukan Ekspor Perdana ke Eropa. Dilihat dari nilai komersialnya, memang jauh dari fantastis, baik itu bagi FERRON, apalagi bagi industri farmasi Indonesia,” jelas Managing Director PT FERRON PAR PHARMACEUTICALS, Djoko Sujono saat memberikan sambutan pada Ekspor Perdana ke Eropa, di pabrik Ferron Cikarang Jawa Barat.

Pada acara tersebut turut memberikan sambutan Kepala BPEN, Bachrul Chairi, dan Deputi I Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA, BPOM, Lucky S. Slamet, yang mewakili Kepala BPOM.

Namun, lanjut Djoko Sujono, bila ditinjau dari aspek kepeloporannya, momentum ini merupakan kejadian yang sangat penting. Bukan saja untuk FERRON, tetapi juga memiliki makna strategis untuk industri farmasi Indonesia. Sebuah bukti, bahwa produk dari industri farmasi nasional, dapat menembus pasar Eropa.

Djoko Sujono menambahkan langkah kecil dari FERRON ini, akan menjadi awal sebuah pencapaian besar bagi industri farmasi generik Indonesia, yang selama ini terkungkung oleh paradigmanya sendiri, untuk tetap berada di luar pasar “regulated” . “Keberhasilan FERRON menembus pasar Inggris, merupakan pencapaian tersendiri, “ ujar Djoko Sujono.

Keberhasilan tersebut dengan memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
•   Ketatnya persyaratan regulasi untuk memasuki pasar farmasi Eropa. Paradigma yang berlaku umum menyatakan, bahwa persyaratan regulasi yang ‘sophisticated' tersebut, jauh dari jangkauan kompetensi pabrik farmasi Indonesia.
•   Pasar Inggris yang kompetitif, membuat anggapan, bahwa industri farmasi Indonesia yang tidak memiliki basis industri bahan baku tidak mungkin mampu bersaing.
•   Usia FERRON di pasar Indonesia, saat ini baru mencapai delapan tahun di pasar domestik.

Djoko Sujono menambahkan pencapaian FERRON ini, tidak datang tiba-tiba. Tiga tahun lebih, FERRON berusaha memahami faktor-faktor yang diperlukan untuk memasuki pasar Eropa. Daya saing harga, memang merupakan satu unsur penting. Tetapi bukan satu-satunya. Fasilitas produksi dengan Sistem dan Kultur Kualitas yang baik, serta kompetensi pengembangan produk yang ‘comply' dengan kaidah-kaidah regulasi, dan standar yang berlaku di kawasan Eropa, merupakan hal yang tidak kalah penting. Itu semua dicapai melalui proses pembelajaran yang panjang dan seringkali melelahkan.

Dukungan dari organisasi induk, yaitu Grup Dexa Medica, yang memiliki komitmen tinggi dan jaringan yang luas, tentu sangat berperan dalam upaya ini. Pencarian sumber bahan baku yang memenuhi syarat kualitas, mempunyai dokumen pendukung yang baik, bebas masalah HAKI, dengan harga yang masih kompetitif, tentu tidak pernah bisa dilakukan tanpa jejaring yang telah lama dibangun oleh Grup Dexa Medica.

Juga, untuk membangun kompetensi pengembangan produk sesuai dengan habitat regulatoris yang baru, tentu tidak bisa berjalan cepat tanpa infrastruktur R&D, dan sumberdaya manusia yang kompeten hasil dari upaya panjang sebuah grup yang sangat ‘committed’ di bidang farmasi.

Demikian pula, keseluruhan upaya membangun infrastruktur kualitas, maupun infrastruktur pengembangan produk, tentu saja ini menyangkut investasi yang tidak sedikit dalam hal: training, konsultasi, pembangunan sistem (termasuk IT), gedung dan peralatan produksi, maupun laboratorium. Sekali lagi, dukungan dan visi manajemen puncak sangat berperan dalam menunjang pencapaian ini.

Seluruh proses adaptasi, dan pembelajaran untuk menyesuaikan dengan hal- hal yang baru diterima oleh seluruh jajaran karyawan, sebagai tantangan untuk mengembangkan diri, dan bukan sebagai beban perubahan. Ini semua yang membuat pencapaian itu relatif dapat berjalan dengan cepat.

Sertifikat UK-MHRA & Ekspor Perdana ke Eropa
Awal tahun 2008, hasil dari segala perjuangan itu mulai tampak. Pada bulan Januari 2008, audit dari MHRA (Medicine and Healthcare Products Regulatory Agency), badan yang berwenang dalam menangani masalah obat-obatan di Inggris, dilakukan dengan hasil yang memuaskan. Bulan Maret 2008, FERRON mendapatkan sertifikat GMP dari MHRA untuk sediaan Padat. Dan pada akhirnya, pada saat ini, Senin, 21 Juli 2008, FERRON berhasil membuktikan realisasi pengiriman produk yang pertama kalinya (perdana) ke Inggris.

Sesuai ketentuan yang berlaku, dengan memasuki pasar ke Inggris, juga membuka pintu pasar ekspor ke negara-negara Uni Eropa lainnya. Sebab, hasil inspeksi fasilitas produksi Ferron diakui oleh negara-negara tersebut. Selanjutnya, tinggal bagaimana FERRON mencari pembeli di negara-negara yang lain.

Secara kebetulan, Inggris memiliki arti strategis bagi bisnis generik di regulated market. Pertama, karena pasar Inggris sangat kompetitif, sehinggga kalau kita dapat bersaing di negara ini, maka dapat dipastikan akan bisa bersaing di regulated market yang lain. Di samping itu, MHRA juga merupakan satu badan inspektor di dunia, sehingga lolosnya FERRON dari inspeksi MHRA akan memberikan rasa percaya diri yang lebih besar untuk masuk ke pasar regulated yang lain.

Pengiriman perdana ke Eropa ini juga akan menjadi pembuktian dan sekaligus menciptakan paradigma baru bahwa produsen generik di Indonesia dapat berkompetisi dan mampu memasuki pasar Eropa yang ketat. Di samping itu secara paralel terjadi pengembangan kompetensi sumberdaya manusia Indonesia yang menjadi dasar bagi pencapaian-pencapaian selanjutnya.

Tentu saja, FERRON masih harus membuktikan untuk tumbuh di pasar Eropa, dan pasar regulated lainnya, yang potensi pasarnya sangat besar. Uni Eropa merupakan pasar kedua terbesar di dunia dengan market share sekitar 24% (setelah Amerika= 47%, dan diikuti oleh Jepang di tempat ke tiga=12%).

Perkembangan selanjutnya hanya bisa berlangsung, apabila ada infrastruktur regulasi yang mendukung, yang menyangkut ketentuan-ketentuan dalam regulasi importasi bahan baku obat, hingga kecepatan penerbitan ijin edar untuk produk khusus ekspor.

Pada akhirnya, diharapkan apa yang telah dicapai oleh FERRON akan diikuti oleh industri-industri generik di Indonesia yang lain, sehingga pada akhirnya akan membentuk kepercayaan internasional kepada industri farmasi di Indonesia. This small step for a company shall be a quantum leap for the pharma industry in Indonesia.